<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Rizqanadhima&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://rizqanadhima.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rizqanadhima.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 24 Jun 2009 16:22:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='rizqanadhima.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Rizqanadhima&#039;s Blog</title>
		<link>http://rizqanadhima.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rizqanadhima.wordpress.com/osd.xml" title="Rizqanadhima&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://rizqanadhima.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Resensi The Road to The Empire</title>
		<link>http://rizqanadhima.wordpress.com/2009/06/24/resensi-the-road-to-the-empire/</link>
		<comments>http://rizqanadhima.wordpress.com/2009/06/24/resensi-the-road-to-the-empire/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 16:22:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizqan Adhima</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rizqanadhima.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA["...Sungguh terasa dekat, Sinta membuat seolah-olah Mongolia adalah rumah kita."<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizqanadhima.wordpress.com&amp;blog=8210029&amp;post=8&amp;subd=rizqanadhima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hi, blogger yang aktif WordPress, kalo jengah liat monitor mulu: sekali-kali baca novel. ada novel keren, gue bikin resensinya dibawah ini. baca ya, baca!</p>
<p><strong>Resensi Novel</strong></p>
<p>Judul                           : The Road to The Empire</p>
<p>Penulis                        : Sinta Yudisia</p>
<p>Penyunting ahli       : Maman S. Mahayana</p>
<p>Penerbit                      : Lingkar Pena Kreativa</p>
<p>Cetakan pertama, Desember 2008</p>
<p><em>“Muurand togloom, hulgand ukhel</em>- Lelucon sang kucing adalah kematian si tikus…”</p>
<p>Adalah kalimat pertama yang membuka novel The Road to The Empire karya Sinta Yudisia. Mengambil setting kekaisaran Mongolia paska Jenghiz Khan, novel ini menceritakan perebutan kekuasaan antar saudara, Takudar Muhammad Khan sang pangeran pertama dengan Arghun Khan sang pangeran kedua.</p>
<p>Anda akan terkaget-kaget membaca prolog pada bab pertama yang memaparkan latar belakang terjadinya perebutan kekuasaan antara Takudar dan Arghun. Kaisar Tuqluk Timur Khan melakukan perjanjian <em>anda </em>dengan Syaikh Jamaluddin untuk menegakkan islam di tanah Mongolia. Namun karena konspirasi di dalam istana, Kaisar Tuqluk Timur Khan mati terbunuh. Takudar melarikan diri sehingga Argun sang pangeran kedua yang naik tahta.</p>
<p>Prolog memang ditulis tergesa-gesa sehingga untuk sesaat pembaca akan didera kebingungan luar biasa. Apa sebenarnya yang diceritakan? Hal ini diperparah dengan pengenalan tokoh-tokoh yang mengahabiskan puluhan lembar karena kompleksitas cerita dalam novel ini. Bibi Yan Che dan Tumen yang hanya lewat sekilas, kerabat-kerabat selir Han Shiang di istana Chinggis yang ternyata tak diceritakan lagi, dan beberapa tokoh lain yang “apakah mereka penting?” cukup menyesaki bab-bab awal yang panjang.</p>
<p>Namun dengan sedikit kesabaran, anda akan mulai menikmati jalan cerita ketika satu persatu tokoh saling terjalin dalam cerita peperangan dan cinta. Takudar Khan menjadi mualaf dan dengan bantuan Rasyiduddin menggalang kekuatan muslim untuk kembali merebut tahta. Argun Khan berubah menjadi kaisar Mongolia yang lalim dibawah pengaruh Jendral Albuqa Khan yang haus darah. Belum lagi cerita tentang Buzun, pangeran ketiga, yang enggan memihak kedua kakaknya yang saling berebut kekuasaan.</p>
<p>Membaca novel ini mengingatkan kita akan karya-karya Leo Tolstoy yang mengandalkan kekuatan konflik psikologis pada setiap tokoh yang diceritakannya. Takudar yang meragu dalam melawan pangeran kedua, Argun Sang Kaisar yang serakah dan haus darah, dan Buzun yang bimbang tak memihak. Belum lagi konflik psikologis yang dialami Urghana yang terjebak antara cinta dan kedigjayaan keluarga, Bayduna yang didikte namun menginginkan kebebasan, serta Almamuchi dan Karadiza yang terseok-seok antara perang dan cinta.</p>
<p>Sinta Yudisia tidak main-main dengan novel ini. Riset mendalam mengenai seluk beluk Mongolia terasa kental ketika menikmati setiap lembar kisahnya. Keceriaan pesta<em> nadaam</em>, dengan alunan <em>moriin khuur</em> dan <em>khulsan khuur</em> disertai nyanyian-nyanyian <em>magtal </em>dan <em>jangar </em>seolah tertangkap indra pendengaran kita. Kegagahan pakaian khas Mongolia dengan <em>shanaavch, terleg del, toortsong, boitog,</em> dan <em>hooves </em>hingga keanggunan wanita-wanita Mongolia dalam balutan <em>khonvontei del, tolgoin, buguivch</em>, dan <em>hatan suih </em>sangat mempesona mata.</p>
<div id="attachment_10" class="wp-caption alignnone" style="width: 460px"><img class="size-full wp-image-10" title="like this book!" src="http://rizqanadhima.files.wordpress.com/2009/06/picture-083.jpg?w=450&#038;h=337" alt="Me and the road to the empire" width="450" height="337" /><p class="wp-caption-text">Me and the road to the empire</p></div>
<p>Epik perang tidak serta merta ditulis secara seronok atau terlampau kejam. Sinta pandai memilih kata yang cenderung puitis dengan syair-syair lagu Mongolia, petikan Kitab Rahasia Sejarah, serta puisi-puisi pilihan Muhammad Iqbal disetiap pergantian bab yang memukau. Kandungan ajaran islam pun tidak terasa mendikte, bahkan lebih menonjolkan multikulturalisme dalam pergolakan perang saudara bangsa Mongolia ini.</p>
<p>Dalam rangkaian ceritanya yang mahadasyat, The Road to the Empire memiliki cacat dalam pembabakan waktu. Hanya disingung sekali saja bahwa waktu kejadian adalah pada abad 8 hijriyah, padahal novel ini memiliki rentang waktu yang panjang dari mulai masa keemasan Kaisar Tuqluk Timur Khan hingga akhir cerita. Belum lagi gaya bercerita yang melompat dari satu tokoh ke tokoh lain agak membingungkan bila urusan waktu kurang ditekankan.</p>
<p>Deskripsi wilayah Mongolia memang digambarkan secara indah dan mendetail, namun ketiadaan alat bantu seperti sketsa peta daratan Mongolia sedikit menyulitkan pembaca. Dimanakah persisnya letak Ulan Bataar? Seberapa luaskan wilayah Ulan Gom, Wulumuqi, atau Khotar? Bagaimana dengan posisi Gurun Gobi, Pegunungan Kun Lun, Danau Bosten, atau Cekungan Turpan? Sungguh keberadaan peta dalam cetakan selanjutnya akan banyak membantu mengurangi “beban” pembaca.</p>
<p>Terlepas dari kekurangannya, novel The Road to The Empire sangat layak untuk dibaca dan diapresiasi. Sinta Yudisia bagai menyambar kesadaran pecinta sastra dalam negeri yang haus akan karya-karya berkualitas. Novel yang disebut-sebut filmis ini, saya pikir akan segera dibuatkan filmnya. Jadi, segeralah mencari bukunya sebelum anda ketinggalan satu kisah mahadasyat tahun ini, The Road to The Empire.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rizqanadhima.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rizqanadhima.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rizqanadhima.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rizqanadhima.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rizqanadhima.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rizqanadhima.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rizqanadhima.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rizqanadhima.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rizqanadhima.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rizqanadhima.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rizqanadhima.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rizqanadhima.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rizqanadhima.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rizqanadhima.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizqanadhima.wordpress.com&amp;blog=8210029&amp;post=8&amp;subd=rizqanadhima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rizqanadhima.wordpress.com/2009/06/24/resensi-the-road-to-the-empire/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c18cfc03a9ea984805b5348a86029557?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Iqunk</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rizqanadhima.files.wordpress.com/2009/06/picture-083.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">like this book!</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tak Ada Kawan, Tak Ada Lawan (tugas akhir buat mas Eep)</title>
		<link>http://rizqanadhima.wordpress.com/2009/06/18/tak-ada-kawan-tak-ada-lawan-tugas-akhir-buat-mas-eep/</link>
		<comments>http://rizqanadhima.wordpress.com/2009/06/18/tak-ada-kawan-tak-ada-lawan-tugas-akhir-buat-mas-eep/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 04:23:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizqan Adhima</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rizqanadhima.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA["...11 tahun reformasi telah mengantarkan Indonesia dari children of democracy menjadi teenager of democracy..."<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizqanadhima.wordpress.com&amp;blog=8210029&amp;post=3&amp;subd=rizqanadhima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>“Aku punya teman…</em></p>
<p><em> Teman sepermainan…”</em></p>
<p>Penggalan lagu TTM ciptaan Maia Estianti sempat <em>booming</em> di kancah musik Indonesia. Sebuah lagu dengan lirik yang mengingatkan para pendengar akan kenangan masa yang paling indah, masa kanak-kanak. Di masa itu sangatlah wajar apabila seorang bocah bermain dengan teman sepermainannya meski terdapat perkelahian-perkelahian kecil yang mewarnai jalannya permainan. Kemudian anak-anak tumbuh menjadi remaja, dan remaja punya aturan main sendiri.</p>
<p>Mari sempatkan diri bernostalgia ke “Taman Kanak-Kanak ABRI” di penghujung Orde Baru. Dikatakan Taman Kanak-Kanak karena murid-muridnya masih bingung membedakan arti “mengamankan” dan “melayani”. Dalam ruangan kelas itu kita dapat melihat satu kelompok bermain yang harmonis dan menggemaskan. Anggotanya adalah Wiranto, Prabowo, dan Yudhoyono. Sama-sama berakhiran vocal O.  Wiranto adalah sang ketua kelas dengan pangkat Pangab, Prabowo bertitel Pangkostrad, sedangkan Yudhoyono adalah anak bawang dengan posisi Kassospol ABRI. Ketiganya gagah berani.</p>
<p>Masalahnya ada di Bapak Pangti Kepala Sekolah “Taman Kanak-Kanak ABRI”, sebut saja Bapak kau-tahu-siapa<a href="http://rizqanadhima8.blogspot.com/#_ftn1">[1]</a>. Bapak kau-tahu-siapa semakin ringkih memikul beban Orde Baru dan akhirnya terjerembab oleh reformasi. Bapak kau-tahu-siapa yang mulanya “mengayomi” bahkan mencekoki anak-anak TK ABRI harus <em>lengser keprabon</em>. Goyahlah tatanan Republik Indonesia, termasuk goyahnya militer menjawab satu pertanyaan pelik: siapa penganti Bapak kau-tahu-siapa sebagai permersatu ABRI di masa rentan reformasi?</p>
<p>ABRI yang terdiri dari empat angkatan dan kepolisian memiliki titik-titik perpecahan setelah jatuhnya Bapak kau-tahu-siapa. Perwakilan ABRI di DPR, konglomerasi militer, dwi fungsi ABRI dan berbagai kepentingan intern ABRI yang saling bertolak belakang menjadi titik api yang mudah meledakkan perpecahan pada tubuh militer saat itu. Sehingga “tongkat estafet militer” yang dicengkram Bapak kau-tahu-siapa selama Orde Baru –paling tidak hingga tercipta stabilitas keamanan- harus dipegang oleh satu tokoh militer, sebagai pemersatu dan peredam konflik.</p>
<p>Nama pertama yang muncul di awal reformasi tentulah nama sang ketua kelas. Wirantoisasi di tubuh militer dianggap mampu menciptakan stabilisasi keamanan dan menyokong dukungan publik pada militer sehingga militer dianggap kaum kesatria reformasi yang memihak rakyat.  Nama Pangkostrad Prabowo sempat muncul, namun tenggelam karena tali-temalinya dengan “Kerajaan Suci Cendana”. Isu de-Prabowoisasi bahkan marak di kalangan militer dan masayarakat yang menjadikan Prabowo sebagai kambing-hitam-di-cocok-hidung milik Bapak kau-tahu-siapa penyebab porak porandanya tahun 1998. Yudhoyono? Setia menjadi abdi militer peredam konflik dengan strategi dan aksi jitu namun tetap sebagai anak bawang yang belum terlalu diperhitungkan.</p>
<p>Tahun 1998 adalah tahun kelulusan Wiranto, Prabowo, dan Yudhoyono dari “Taman Kanak-Kanak ABRI”. Lepas dari kekuasaan Bapak kau-tahu-siapa, tiga teman sepermainan ini memasuki fase “Sekolah Dasar Reformasi”. Masing-masing disibukkan dengan arah aliansi dan koalisi pribadi. Hilangnya dwi fungsi ABRI (bahkan pembubaran ABRI) seiring dengan berkurangnya “waktu bermain” yang dilakukan bersama-sama antara Wiranto, Prabowo, dan Yudhoyono. Boleh dikatakan mereka tak lagi teman sepermainan.</p>
<p>Sekonyong-konyong di tahun 2004 (penulis masih memasukkan tahun ini pada fase SD Reformasi), Yudhoyono yang notabene merupakan adik bungsu bin anak bawang pada awal reformasi bertransformasi menjadi Presiden Republik Indonesia. Keberhasilan Yudhoyono tentu tidak turun dari batu sambaran petir namun memang jauh sebelum Orde Baru runtuh, Yudhoyono telah mempersiapkan diri (dan dipersiapkan) sebagai pemimpin bangsa Indonesia. Sang Jendral Intelektual ini berhasil melangkahi dua kakak seperguruannya, Wiranto dan Prabowo.</p>
<p>Bolehlah dikatakan bila tahun 2009 adalah fase “SMP Demokratisasi” karena 11 tahun reformasi telah mengantarkan Indonesia dari <em>children of democracy</em> menjadi <em>teenager of democracy</em>. Di masa ini, Indonesia memasuki masa puber yang lebih dinamis menuju konsolidasi Indonesia baik-baik atau Indonesia <em>bandel</em> dimasa mendatang. Beberapa murid “SMP Demokratisasi” adalah lulusan TK ABRI, siapa lagi kalau bukan Wiranto, Prabowo, dan Yudhoyono.</p>
<p>Latar belakang militer yang sama tidak menjadikan mereka menyatukan kekuatan bersama pula. Hal ini jelas tergambar dalam masa menjelang pemilihan presiden tahun 2009. Di mulai dari Yudhoyono –yang memiliki nama gaul, SBY- sebagai <em>incumbent </em>ada di sudut biru koalisi Partai Demokrat. Wiranto yang awalnya kecewa terhadap Golkar, membentuk Hanura, dan kembali kepelukan Golkar ada di sudut kuning koalisi Partai Golkar. Sedangkan Prabowo –si raja iklan- masih galau karena <em>keukeuh sumeureukeuh</em><a href="http://rizqanadhima8.blogspot.com/#_ftn2"><em><strong>[2]</strong></em></a> mengincar kursi Capres meski jelas-jelas Gerindra tak cukup modal, akibatnya koalisi Prabowo di sudut merah pun terancam bubar.</p>
<p>Warna dari ketiga mantan teman sepermainan ini jelas sangat berbeda. Mengutip Eep S. Fatah, Yudhoyono disandingkan dengan “sandal jepit” pun sangat percaya diri untuk mendapatkan kembali tampuk kekuasaan Presiden. Meski Yudhoyono belum menemukan sandal jepit yang pas, namun kejayaan Partai Demokrat di pemilu legislatif kali ini menjadi modal kuat untuk bertarung di perang Pilpres mendatang asalkan Yuhoyono tidak <em>kelewat belagu </em>yang mengancam pencitraan dirinya.</p>
<p>Wiranto malah menjadi yang tercepat dalam pendeklarasian pencalonan Pilpres meski harus puas sebagai cawapres disebelah Kalla. Sayangnya kecepatan sudut kuning a la Kallamatika belum mampu menghitung kecenderungan konflik di tubuh partai Golkar, DPP saja belum akur dengan DPD tingkat Kabupaten/Kota. Mengabaikan <em>grass root</em> berarti menumbangkan si pohon beringin baik dalam Pilpres maupun untuk kelangsungan jangka panjang partai Golkar. Masalah lain yang terlihat sepele namun cukup menganggu adalah hal pencitraan mengenai Kalla yang kurang cocok menjadi capres, ditambah cawapres yang lebih tinggi dari capresnya sendiri. Agak aneh bila tertangkap kamera. Sudut kuning harus menyiasati masalah yang ada dalam tenggat waktu yang semakin mencekik.</p>
<p>Prabowo agak sial di tahun 2009 namun sangat berpotensi di tahun 2014. Ia memiliki visi dan program konsolidasi yang cukup jelas bagi Indonesia namun memiliki posisi dilematis. Sudut biru adalah musuh Prabowo, sudut kuning telah terisi, maka tinggal sudut merah tempat Prabowo menggantungkan harapan. Usulan <em>national Queen</em> bagi Megawati tentu tidak tertangkap logika Mega sehingga terkesan konyol. Ada di samping Mega menjadikan program Prabowo mandul karena program-program tersebut diluar logika Mega. Apalagi tersiar isu bahwa sudut biru mencoba menggaet sudut merah, tamatlah sudah. Hal yang dapat dilakukan Prabowo adalah menggalang 22 partai kecil yang telah “dimilikinya” dan nekat menjadi capres tahun ini. Meski secara hitung-hitungan politik sedikit merugikan namun paling tidak langkah ini dapat menjadi modal bagi 2014.</p>
<p>Dalam politik, tak ada kawan tak ada lawan. Bermula dari teman sepermainan menjadi lawan bermain dalam pilpres 2009. Wiranto, Prabowo, dan Yudhoyono sebenarnya kawan-kawan militer yang memiliki niat baik bagi konsolidasi demokratisasi Indonesia, meski dengan gaya berbeda-beda. Menghadapi mantan teman sepermainan haruslah lebih cermat karena mereka bukan lagi teman tapi mesra, namun kini menjadi teman tapi <em>macok</em><a href="http://rizqanadhima8.blogspot.com/#_ftn3"><em><strong>[3]</strong></em></a>.</p>
<hr size="1" /><a href="http://rizqanadhima8.blogspot.com/#_ftnref1">[1]</a> Kau-tahu-siapa atau you-know-who adalah panggilan untuk Lord Vordemort, penyihir hitam paling jahat dalam serial Harry Potter. Dalam essay ini kau-tahu-siapa adalah panggilan bagi Soeharto, tiran dalam Orde Baru.</p>
<p><a href="http://rizqanadhima8.blogspot.com/#_ftnref2">[2]</a> Bahasa Sunda : pantang mundur.</p>
<p><a href="http://rizqanadhima8.blogspot.com/#_ftnref3">[3]</a> Bahasa Sunda : menggigit.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rizqanadhima.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rizqanadhima.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rizqanadhima.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rizqanadhima.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rizqanadhima.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rizqanadhima.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rizqanadhima.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rizqanadhima.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rizqanadhima.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rizqanadhima.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rizqanadhima.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rizqanadhima.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rizqanadhima.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rizqanadhima.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizqanadhima.wordpress.com&amp;blog=8210029&amp;post=3&amp;subd=rizqanadhima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rizqanadhima.wordpress.com/2009/06/18/tak-ada-kawan-tak-ada-lawan-tugas-akhir-buat-mas-eep/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c18cfc03a9ea984805b5348a86029557?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Iqunk</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://rizqanadhima.wordpress.com/2009/06/17/hello-world/</link>
		<comments>http://rizqanadhima.wordpress.com/2009/06/17/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 06:42:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizqan Adhima</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizqanadhima.wordpress.com&amp;blog=8210029&amp;post=1&amp;subd=rizqanadhima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rizqanadhima.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rizqanadhima.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rizqanadhima.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rizqanadhima.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rizqanadhima.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rizqanadhima.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rizqanadhima.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rizqanadhima.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rizqanadhima.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rizqanadhima.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rizqanadhima.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rizqanadhima.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rizqanadhima.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rizqanadhima.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizqanadhima.wordpress.com&amp;blog=8210029&amp;post=1&amp;subd=rizqanadhima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rizqanadhima.wordpress.com/2009/06/17/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c18cfc03a9ea984805b5348a86029557?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Iqunk</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
